Jamilatun : “Tidak Ada Kasus Antraks Maupun Rabies di KSB”

CDN, Sumbawa Barat– Keberadaan hewan ternak seperti sapi atau unggas tentu sangat menguntungkan bagi setiap orang, selain itu menunjukkan strata sosial juga sangat membantu para petani ternak dalam menopang perekonomian keluarga. Namun hal sebalik kerap terjadi, dimana ternak peliharaan terserang penyakit yang menakutkan seperti antraks dan rabies. Ini akan membuat petani ternak merugi sekaligus membahayakan nyawa orang lain.

Walaupun kasus tersebut sangat langka di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB, red), namun Dinas Pertanian KSB tetap mewaspadainya dan melakukan pemantauan secara periodik dan berkala. Itu dimaksudkan untuk mencegah sedini mungkin terjadinya pandemi dan menjamin para petani ternak terus menjalankan usaha ternaknya.

Kepala Dinas Pertanian KSB, Suhadi, SP., M.Si. melalui Kepala Bidang Peternakan Jamilatun ketika diwawancarai oleh media ini, Selasa (14/09/2021) diruang kerjanya menegaskan bahwa sejauh ini (Tahun 2021) belum ada kasus berbahaya sejenis antraks dan rabies (anjing gila) di wilayah KSB.

“Sejauh ini alhamdulillah KSB aman dari penyakit seperti antraks dan rabies. Namun kami tetap waspada, seperti kata pepatah bahwa “mencegah lebih baik daripada mengobati” sudah kami lakukan dengan melakukan vaksinasi rabies di pintu masuk KSB (Desa Kokarlian),” pungkas Kabid Peternakan Jamilatun.

Ciri-Ciri Anjing Yang Terpapar Penyakit Rabies

Dilanjutkan oleh Jamilatun, kami melakukan vaksinasi rabies pada sejumlah hewan seperti kucing, anjing dan jenis hewan yang dekat manusia di pintu masuk KSB bukan tanpa alasan, kami mendengar informasi bahwa di kabupaten tetangga tepatnya di Desa Mapin terjadi kasus rabies. Akibat gigitan anjing salah satu warga meninggal dunia.

“Selain melakukan vaksinasi rabies atau anjing gila, Distan KSB juga aktif melakukan penyuluhan dan menyebarkan informasi tentang gejala, ciri-ciri penyakit antraks dan rabies serta cara penanganannya. Puskeswan, penyuluh peternakan yang tersebar di tiap-tiap desa juga kami harapkan aktif dan berfungsi sesuai tufoksi yang telah diberikan untuk memberikan informasi pada para petani ternak. Selain itu, untuk mengecek kesehatan dan informasi ternak, Distan KSB melalui bidang peternakan melakukan register hewan untuk mengetahui informasi dan populasi ternak di KSB,” beber Jamilatun.

Baca Juga  H. W. Musyafirin Laksanakan Tarawih Ke 14 Di Masjid Nurul Iman Pasir Putih

Untuk mendalami apa dan ciri-ciri dari penyakit antraks dan rabies, media ini melakukan pendalaman informasi dengan merangkum dari berbagai sumber terpercaya seputaran penyakit dan antraks.

Rabies adalah suatu virus mematikan yang menyebar ke manusia dari air liur hewan yang terinfeksi. Rabies biasanya menyebar melalui gigitan hewan. Binatang yang paling mungkin menyebarkan rabies antara lain anjing, kelelawar, anjing hutan, rubah, sigung, dan rakun.

Sedangkan antraks merupakan penyakit bakteri yang jarang terjadi namun fatal. Antraks disebabkan oleh bakteri yang membentuk spora, terutama memengaruhi hewan. Manusia dapat terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau dengan menghirup spora.

Cara Penularan Penyakit Antraks

Antraks adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Penyakit ini bisa menular, dan ditularkan lewat binatang yang membawa bakteri tersebut. Selain itu, bermacam-macam gejala dan serangan bisa ditimbulkan oleh antraks. Gejala tersebut bisa menyerang saluran pencernaan, kulit, hingga pernapasan.

Ada banyak faktor risiko untuk antraks, yaitu orang yang mengolah produk hewan. Dokter hewan yang bekerja dengan binatang yang terinfeksi. Peternak yang bekerja dengan binatang terinfeksi.
Pelancong yang mengunjungi daerah berisiko tinggi. Pekerja laboratorium yang bekerja dengan antraks. Tukang pos, anggota militer dan relawan yang terpapar selama kejadian teror biologis yang melibatkan spora antraks dan
memakan daging mentah dari binatang yang terinfeksi.

Spora antraks dihasilkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang terdapat di tanah. Meskipun tanpa inang, tetapi spora ini bisa hidup tidak aktif selama beberapa tahun. Hewan ternak seperti kambing, biri-biri, sapi, atau kuda umumnya menjadi inang spora antraks. Umumnya, lebih banyak manusia tertular antraks dari kulit atau daging hewan yang terinfeksi.

Baca Juga  Dua Kecamatan Gagal Panen Di KSB Tercover AUTP

Antraks tidak ditularkan antara satu orang ke orang lainnya. Maka dari itu, seseorang yang melakukan kontak dengan pengidap antraks tidak perlu diimunisasi ataupun diobati. Namun, seseorang perlu waspada apabila berada di wilayah penyebaran antraks yang sama dengan pengidap, ataupun terpapar oleh sumber infeksi (hewan ternak, dan hewan permainan) yang sama.

Gejala antraks umumnya setelah 7 hari pengidap terpapar bakteri, gejala antraks akan terlihat. Namun, gejala baru akan terlihat beberapa minggu setelah spora bakteri terhirup jika penularan terjadi lewat udara.

Gejala anthraks dibedakan berdasarkan cara penularannya, yaitu antraks kulit. Pada antraks kulit, tubuh pengidap terkena infeksi bakteri melalui luka sayatan atau luka lainnya pada kulit. Kasus ini paling sering terjadi dan paling ringan. Antraks kulit jarang menyebabkan kematian, jika ditangani dengan benar. Sedangkan gejala antraks kulit, ditandai dengan munculnya benjolan gatal, seperti gigitan serangga pada bagian yang terkena infeksi. Setelah gatal, benjolan tersebut akan berubah menjadi borok yang tidak terasa nyeri, dan berwarna hitam pada bagian tengah. Pembengkakan juga akan terjadi pada kelenjar getah bening dekat luka.

Antraks inhalasi menular dan berkembang saat pengidap menghirup spora antraks. Antraks ini merupakan jenis paling mematikan. Gejala awalnya akan menyerupai gejala penyakit flu, seperti demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, dan lelah. Lalu, muncul rasa tidak nyaman pada dada, napas menjadi pendek, mual, batuk darah, nyeri saat menelan, demam tinggi, kesulitan bernapas, syok, serta terjadi meningitis.

Antraks Gastrointestinal. Bakteri antraks masuk ke dalam tubuh pengidap melalui konsumsi hewan yang terinfeksi antraks yang tidak dimasak sampai matang. Gejala antraks gastrointestinal adalah mual dan muntah, nyeri perut, sakit kepala, nafsu makan menurun, demam, diare parah dengan kotoran bercampur darah, radang tenggorokan dan kesulitan menelan, serta pembengkakan leher.

Antraks Injeksi. Biasanya bakteri masuk ke tubuh melalui injeksi obat-obatan terlarang. Jenis ini merupakan cara penularan paling baru yang ditemukan. Akan timbul kemerahan pada lokasi suntikan, pembengkakan hebat, syok, kegagalan multi organ, dan meningitis sebagai gejalanya.

Baca Juga  Sambut New Normal, Pesta Pernikahan Bakal Kembali Diperbolehkan

Dalam mendiagnosis antraks, pemeriksaan awal adalah untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit-penyakit lainnya yang memiliki gejala serupa, misalnya flu atau pneumonia dengan gejala yang mirip antraks inhalasi. Setelah itu, dapat dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan, seperti pemeriksaan patologi. Cairan dari luka yang dicurigai atau sampel jaringan kulit pada daerah yang terinfeksi akan diambil untuk diperiksa. Pemeriksaan darah. Memeriksa ada-tidaknya bakteri antraks dalam darah pengidap.
Fungsi lumbal (spinal tap). Pengambilan sampel cairan otak dari area tulang belakang pengidap untuk diperiksa lebih lanjut, guna mengonfirmasi diagnosis meningitis yang disebabkan oleh antraks. Pemeriksaan kotoran, Kotoran pengidap diperiksa untuk memastikan diagnosis antraks gastrointestinal. Pemindaian. Foto rontgen atau CT-scan dada, dilakukan pada pengidap yang dicurigai mengidap antraks inhalasi.

Pengobatan antraks adalah menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik dan lama pemberian antibiotiknya tergantung dari gejala yang dialami oleh pengidap. Namun secara umum, antibiotik yang umumnya digunakan adalah doksisiklin atau golongan kuinolon (seperti, siprofloksasin dan levofloksasin). Jika terjadi kondisi sesak napas yang berat atau syok, perawatan di ruang rawat intensif perlu dilakukan.

Untuk mencegah tertular antraks, mereka yang sehari-hari bekerja dengan hewan atau produk hewan sebaiknya rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap kali selesai bekerja. Selain itu, selama bekerja, penting untuk selalu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap berupa masker, goggle (semacam kacamata pelindung), sarung tangan, dan apron. (cdn.wan**)