Urgensi Pendidikan Sejarah dan Pembentukan Karakter Siswa

Jakarta, 10/10/2020. Di tengah kemelut segudang persoalan berbagai sektor akibat pandemi COVID-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mengkaji rencana penyederhanaan kurikulum pendidikan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional khususnya di masa pandemi COVID-19.

Kajian yang dilakukan secara kontinyu ini memperhatikan hasil evaluasi implementasi kurikulum baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat serta perubahan paradigma keragaman dalam implementasi kurikulum.

Kemendikbud melalui Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukuan mengungkapkan bahwa penyederhanaan kurikulum masih ditahapan awal karena membutuhkan proses serta pembahasan yang panjang, sehingga saat ini masih dalam tahap akademis.

Beredarnya kabar hoax yang bermunculan ditengah masyarakat tentang pelajaran sejarah yang akan dihapus dari kurikulum diklarifikasi Kemendikbud secara langsung, pelajaran sejarah tidak akan dihapus dan akan tetap diajarkan dan diterapkan di setiap generasi.

Melalui website Kemendikbud (18/09), Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat juga mengungkapkan bahwa pelajaran sejarah adalah bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, sejak dulu, kini hingga nanti. Sejarah adalah komponen penting bagi Indonesia sebagai bangsa yang besar sehingga tidak boleh ditinggalkan dalam kurikulum pendidikan. Nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah merupakan salah satu kunci pengembangan karakter bangsa.

Sekiranya, penyederhanaan kurikulum harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian juga tentunya melibatkan berbagai stakeholder dan pemangku kepentingan pendidikan, tidak hanya Kemendikbud tetapi juga, ahli/pakar pendidikan, pengamat, guru dan dosen serta organisasi dan LSM. Pendidikan sejarah tidak terlepas dari pembentukan jati diri siswa sejak dini, sebagaimana diungkapkan melalui UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni, tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Tentunya dalam mengamalkan tujuan tersebut tidak bisa terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan sejarah.

Baca Juga  Sekolah Dari Rumah, Bupati KSB Keluarkan Surat Edaran Resmi

Menurut McKinsey Global Institute, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia terbesar ke-16 menjadi ke-7 pada 2030, sehingga apabila sejarah ditinggalkan maka negara ini hanyalah akan menjadi kapal tanpa layar dan arah. Karena dalam pendidikan sejarah tidak hanya terdapat ilmu pengetahuan saja, tetapi ada makna subjektif berbangsa, sejarah memiliki nilai yang dianut suatu masyarakat yang ada di dalam sejarah itu sehingga dari nilai itu kita dituntut memiliki ilmu yang kritis, sebagaimana disebut bahwa “Historia Magistra Vitae” yaitu sejarah adalah guru kehidupan. Contoh-contoh sejarah ada banyak. Ada sejarah perang dunia 1 & 2, sejarah perang dingin, sejarah kemerdekaan Indonesia, sejarah turunnya orde baru dan lain-lain. Yang menjadi kekurangan disini adalah pelajaran sejarah di kurikulum Indonesia masih menjadi pelajaran yang dikesampingkan dibanding dengan pelajaran matematika, fisika dan biologi untuk IPA, dan ekonomi atau akuntansi untuk IPS. Pelajaran sejarah masih kurang dianggap sebagai pelajaran utama atau prioritas utama. Padahal tingkat kesulitan pelajaran sejarah juga tidak sampai perlu mengadakan les atau belajar tambahan seperti beberapa mata pelajaran lainnya. Atas kemudahan ini, satuan pendidikan harusnya mampu mengemas pelajaran sejarah agar tidak membosankan, begitu juga pada keterbatasan akses pada buku-buku sejarah juga menjadi kendala lainnya.

Baca Juga  Begini Diet Natural Ala Letkol Inf Yanshori

Pendidikan sejarah harusnya mampu menjadi refleksi imaginatif bagi para siswa, di sekolah para siswa selama ini banyak dituntut hanya untuk melihat masa depan saja tanpa pernah ditanya bagaimana asal usul pahlawan/leluhur bangsa, jangan sampai sekolah hanya mengajarkan untuk melihat ke depan tanpa belajar dan refleksi ke masa lalu, terutama masa lalu tentang sejarah bangsa Indonesia.

Pelajaran sejarah juga harusnya mampu membangun nasionalisme bagi siswa, pendidikan sejarah ada gerbang utama untuk memahami identitas bangsa. Sehingga jika siswa sudah memahaminya, langkah selanjutnya adalah menanamkan nilai rasa cinta tanah air kepada bangsa dan negara, serta pada jasa para pahlawan yang telah berkorban nyawa untuk memerdekakan Indonesia.

Baca Juga  Meminimalisir Kecelakan Berlalu Lintas Pada Siswa, Dishub KSB Efektifkan Program TABek

Kita baru saja memperingati hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober lalu, bagaimana proses pembentukan ideologi pancasila harus diajarkan kepada siswa, sehingga akan tertanam sejak dini bahwa ideologi Pancasila adalah ideologi final yang tidak dapat diganggu gugat. Dan apabila ada gerakan yang mencoba untuk menumbangkan Pancasila harus sudah mampu ditolak dan ditanggapi secara kritis oleh para siswa.

Kembali menyikapi soal penyederhanaan kurikulum pendidikan nasional, pendidikan sejarah harus mampu ditempatkan pada porsi dan posisi yang tepat. Pendidikan sejarah memiliki peran ideologis yang menjadi gerbang utama dalam mempelajari dan memahami sejarah bangsa Indonesia, karena dari pendidikan sejarahlah dapat terbentuk dan diperkuatnya rasa nasionalisme kepada negara dan pendidikan karakter siswa. Kedua hal ini harus wajib ditanamkan kepada siswa sejak dini ditingkat SD hingga remaja ditingkat SMA.

Opini ditulis oleh, Amilan Hatta, (Wasekjen DPP KNPI)